Promosi dari kaum LGBTQ+ sudah merambat ke dalam lingkungan anak-anak. Banyak sekali hal yang menyangkut anak-anak dibumbui oleh LGBTQ+. Anak ialah pribadi yang mudah belajar dan merekam apa yang ada di sekitarnya. Mereka mudah mengerti dan memahami sesuatu dengan cepat. Menurut John Locke mengemukakan menurut pandangan psikologi, anak merupakan pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Melalui pengertian tersebut, bisa kita simpulkan bahwa anak-anak belajar dengan cepat melalui lingkungannya. Tidak peduli lingkungan mereka buruk atau baik, semua itu mereka serap tanpa saring. Hal ini yang menjadi titik tumpu orang tua, untuk memilih lingkungan yang baik bagi anak. Anak sangat cepat belajar hal baru, terkhusus dari lingkungan.
Bagian ini yang dimanfaatkan kaum LGBTQ+ untuk tujuan mereka. Mereka tahu bahwa anak-anak tidak mengerti mengenai LGBTQ+. Maka dari itu, mereka melakukan normalisasi kepada anak-anak, dengan pembiasaan di lingkungan. Tidak secara langsung atau secara gamblang, mereka menyisipkan unsur LGBTQ+ pada hal-hal kecil. Tujuannya, agar anak terbiasa dan merasa normal hal tersebut. Bagi kita yang tahu, hal tersebut tidaklah benar, hal itu menentang kenormalan. Menurut psikologi, LGBTQ+ bukan termasuk gangguan mental, tetapi bisa menyebabkan gangguan mental. Jika ditelik lebih dalam, LGBTQ+ tidak sakit, namun aktivitas yang mereka lakukan itu sakit. Mereka melakukan sesuatu yang jauh dari batas normal. Berarti ada sesuatu yang salah dalam dirinya. Pada dasarnya, kita hidup berpasang-pasangan, saling melengkapi satu sama lain. Namun, mengapa mereka bisa berpikir dengan sesama jenis kelamin? Pasti di sana ada sesuatu yang salah atau tidak benar. Ada sesuatu yang menyimpang dalam pikiran, ideologi, serta lingkungannya. Salah satu hal yang mengandung promosi tersebut ada pada tontonan anak-anak. Benar kartun atau video animasi yang ditujukan untuk anak-anak. Sekarang kartun-kartun yang dikhususkan untuk anak banyak mengandung unsur LGBTQ+.
Pada dasarnya anak-anak tidak akan mengerti dengan termuatnya unsur tersebut dalam tontonan mereka. Mereka masih polos dan tidak tahu apa maksud dan pesan dari hal tersebut. Mereka hanya terfokus pada tontonan yang memang diperuntukkan kepada mereka. Namun, orang-orang tertentu ingin menormalisasikan hal tersebut melalui anak-anak. Mereka ingin anak-anak menganggap hal tersebut menjadi hal yang wajar atau biasa di dalam lingkungan sosial. Jika dipikirkan melalui sudut pandang kaum mereka, tidak ada salah pada hal tersebut. Mereka hanya ingin diakui oleh seluruh orang. Mereka ingin dianggap, bahwa mereka itu normal seperti orang pada umumnya. Mereka tidak bisa meracuni seluruh orang dewasa untuk setuju terhadap mereka atau bisa dikatakan pro terhadap mereka, maka dari itu mereka meracuni anak-anak. Mereka mempromosikan kaum mereka melalui tontonan anak-anak.
Mereka pintar memilih target, karena anak-anak mudah terpengaruh. Hal itu akan membuat anak berpikir bahwa kaum mereka itu normal atau wajar. Jika hal tersebut bisa terealisasikan keseluruh anak-anak, masa depan dunia akan semakin sakit. Kita tahu, bahwa kaum LGBTQ+ itu bukan orang yang sehat. Mereka memiliki penyakit pada mental mereka. Takutnya, anak-anak akan memiliki penyakit mental juga, jika dibiarkan semakin lama. Maka dari itu harapan saya kepada orang tua, lebih memperhatikan tontonan anak-anak. Apakah tontonan mereka mengandung LGBTQ+ atau tidak? Masih banyak tontonan yang bagus dan berkualitas untuk anak-anak. Salah satu tontonan yang bagus untuk anak-anak ialah DOMIKADO. DOMIKADO merupakan sebuah tayangan edukasi untuk anak-anak, karya anak bangsa. Tentu saja tidak akan ada unsur LGBTQ+. Selain itu dari tayangan tersebut bisa belajar dan bermain bersama di Taman Domikado.